Estafet Marwah Putra Minang: David Razi Resmi Nakhodai Kejari Tojo Una-Una, Melanjutkan Jejak Dr. Rizky Fachrurrozi

Estafet Marwah Putra Minang: David Razi Resmi Nakhodai Kejari Tojo Una-Una, Melanjutkan Jejak Dr. Rizky Fachrurrozi

MAKASSAR (31/07) — Angin yang berembus dari ranah perantauan kembali membawa kabar yang menghangatkan dada. Di tengah denyut estafet kepemimpinan Korps Adhyaksa, nama seorang putra Minangkabau kembali menapaki tangga pengabdian yang lebih tinggi. David Razi, S.E., S.H., M.H., putra Minang dari persukuan Chaniago, resmi dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah.

Ada makna yang lebih dalam dari sekadar pergantian jabatan. Tongkat kepemimpinan itu berpindah dari tangan sesama putra Ranah Minang, Dr. Rizky Fachrurrozi, S.H., M.H., yang sebelumnya memimpin Kejaksaan Negeri Tojo Una-Una dan kini memperoleh amanah baru sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Indragiri Hulu. Sebuah estafet yang seolah merangkai benang merah tentang konsistensi kepercayaan negara kepada insan-insan terbaik Minangkabau dalam menjaga marwah penegakan hukum di berbagai penjuru Nusantara.

Promosi tersebut merupakan bagian dari mutasi dan rotasi pejabat yang ditetapkan Kejaksaan Republik Indonesia. Sebelum dipercaya memimpin Kejari Tojo Una-Una, David Razi mengemban tugas sebagai Kepala Bagian Tata Usaha pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, sebuah jabatan strategis yang menuntut kecermatan administrasi sekaligus kepemimpinan organisatoris.

Perjalanan kariernya bukanlah kisah yang dibangun oleh keberuntungan sesaat, melainkan mosaik panjang yang disusun dari dedikasi, disiplin, dan kesetiaan terhadap profesi. Jejak pengabdiannya membentang melintasi beragam daerah, membentuk karakter kepemimpinan yang matang melalui tempaan pengalaman dan dinamika penegakan hukum.

Langkahnya bermula sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Mamuju pada penghujung 2017. Dua tahun kemudian, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Analis pada Kejaksaan Agung Republik Indonesia, memperluas cakrawala pengabdiannya di tingkat nasional. Kiprah intelektualnya terus berkembang ketika memimpin Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Kota Sukabumi selama periode 2022–2024, sebelum akhirnya mengabdi sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

Di balik toga kehormatan dan tanggung jawab yang disandangnya, David Razi tetap membawa denyut nilai-nilai yang diwariskan tanah kelahirannya. Bagi seorang perantau Minang, jabatan bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam khazanah adat Minangkabau dikenal petuah agung, Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, sebuah falsafah yang memadukan keluhuran adat dengan kemuliaan syariat sebagai fondasi moral dalam menjalankan kehidupan.

Nilai itu bukan sekadar untaian kata yang indah diucapkan, melainkan kompas batin yang menjaga setiap langkah agar tetap berada pada garis kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan. Ketika kekuasaan kerap menghadirkan berbagai persimpangan, integritas menjadi pelita yang menuntun arah, sementara amanah menjadi jangkar yang meneguhkan hati.

Perjalanan panjangnya dari satu daerah ke daerah lain juga menghadirkan cerminan hidup dari petatah-petitih Minangkabau, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Sebuah ajaran yang mengajarkan bahwa kemuliaan seorang perantau tidak diukur dari seberapa jauh ia melangkah, melainkan dari kemampuannya menghormati tanah yang dipijak tanpa kehilangan jati dirinya.

Di Sulawesi, di ibu kota, di tanah Pasundan, maupun di setiap tempat yang pernah menjadi ruang pengabdian, David Razi dikenal mampu membaur dengan masyarakat, merangkul kearifan lokal, serta membangun harmoni dengan lingkungan sekitarnya. Sikap itulah yang sejak dahulu menjadi ciri khas Urang Awak mampu menyesuaikan diri dengan zaman dan tempat, namun tetap teguh memelihara akar budaya yang diwariskan leluhur.

Estafet kepemimpinan dari Dr. Rizky Fachrurrozi kepada David Razi menjadi simbol bahwa pengabdian tidak pernah berhenti pada satu nama. Ia terus mengalir sebagaimana batang air yang menghidupi sawah dan ladang, meneruskan semangat dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pergantian amanah bukanlah akhir sebuah perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk menorehkan karya dan pengabdian yang lebih luas.

Semoga amanah baru ini menjadi ruang lahirnya berbagai ikhtiar terbaik dalam menghadirkan keadilan yang berpijak pada nurani, ketegasan yang dibingkai kebijaksanaan, serta kepemimpinan yang mengedepankan integritas. Sebab sejatinya, setinggi apa pun jabatan yang diraih, kemuliaannya akan selalu diukur oleh seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *