Gelora Ukhuwah Menyigi Cakrawala Bunaken: Odesai Phinisi Menenun Kembali Marwah Perantau Minangkabau di Tanah Nyiur Melambai

Gelora Ukhuwah Menyigi Cakrawala Bunaken: Odesai Phinisi Menenun Kembali Marwah Perantau Minangkabau di Tanah Nyiur Melambai

MANADO, (1/08) — Laut tak pernah sekadar menyimpan air. Ia menyimpan jejak langkah para perantau, doa-doa yang tak pernah selesai dipanjatkan, serta kerinduan yang berlayar diam-diam menuju kampung halaman. Di hamparan biru Teluk Manado yang berpadu dengan cakrawala Sulawesi Utara, riak ombak pada Sabtu (1/8/2026) seakan menjadi saksi lahirnya sebuah peristiwa yang bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perayaan jati diri, peneguhan silaturahmi, sekaligus ikrar untuk menjaga marwah urang awak di tanah rantau.

Lebih kurang lima puluh dunsanak yang terdiri atas uda, uni, anak, hingga kamanakan dalam Keluarga Besar Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Manado menaiki sebuah “Kapal Phinisi”, membelah samudra menuju keelokan Pulau Bunaken. Perjalanan itu digagas langsung oleh Dewan Pakar DPP IKM, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, yang juga mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Mengusung tema “Memperkuat Ukhuwah di Tanah Rantau”, pelayaran tersebut lahir bukan dari sekadar gagasan rekreatif, melainkan dari sebuah kesadaran filosofis bahwa organisasi perantau akan tetap hidup selama denyut persaudaraannya terus dipelihara. Dalam falsafah Minangkabau, rantau bukanlah ruang untuk melupakan asal-usul, melainkan ladang tempat menumbuhkan kehormatan, memperluas manfaat, serta menjaga adat agar tetap bernapas di mana pun kaki berpijak.

Bagi Dt. Toembidjo, perjalanan ini merupakan pengejawantahan nilai luhur Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, bahwa kebersamaan tidak dibangun melalui pidato semata, tetapi melalui pengalaman yang dirasakan bersama, tawa yang dibagi, dan kenangan yang kelak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keakraban itu semakin terasa hangat dengan bergabungnya sejumlah pejabat Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara yang turut menikmati pelayaran persaudaraan tersebut. Hadir di antaranya Koordinator Kejati Sulut Dr. Ulfa Mardian, S.H., M.H., Sumarni Larappe, S.H., Indra Aprio Handry Saragih, S.H., M.H.Li., serta Kepala Seksi II Intelijen Kejati Sulut Alkaf, S.H., M.H.

Di atas geladak Phinisi yang gagah menantang ombak, sekat profesi seolah larut bersama semilir angin laut. Jabatan tak lagi menjadi pembeda. Semua duduk sejajar dalam satu lingkaran persaudaraan, membuktikan bahwa ukhuwah adalah bahasa universal yang melampaui atribut kedinasan maupun latar belakang kehidupan.

Sepanjang pelayaran, samudra menyuguhkan panorama yang nyaris tanpa cela. Air laut berkilau diterpa cahaya matahari, gugusan pulau tampak bagai zamrud yang terapung, sementara gelak tawa para dunsanak berpadu dengan desir angin yang berembus lembut dari arah timur.

Suasana menjadi semakin syahdu ketika lantunan lagu-lagu Minang mulai mengalun melalui sesi karaoke yang spontan namun sarat makna. Momen paling menggetarkan hadir saat Dt. Toembidjo mengambil mikrofon dan melantunkan tembang legendaris “Pulanglah Uda.”

Lagu ciptaan Syam Tanjung dan Yongky yang pertama kali dipopulerkan pada tahun 1991 oleh Hetty Koes Endang itu seakan berubah menjadi doa kolektif para perantau. Setiap baitnya bukan sekadar melodi, melainkan jembatan batin yang menghubungkan Bunaken dengan ranah Minang, menghidupkan kembali aroma sawah, kabut Bukit Barisan, gemericik batang aia, hingga pelukan kampung halaman yang selama ini hanya dapat dipeluk melalui ingatan.

Tak sedikit mata yang menerawang jauh ke ufuk laut, seolah di balik garis cakrawala itu berdiri rumah gadang yang setia menunggu kepulangan anak-anaknya.

Sesampainya di Pulau Bunaken, kehangatan persaudaraan menemukan bentuknya yang paling otentik melalui tradisi Makan Bajamba—warisan luhur Minangkabau yang menjadikan kebersamaan sebagai inti dari setiap suapan.

Di bawah langit Bunaken yang membiru, hamparan hidangan tersaji dalam satu lingkaran persaudaraan. Tidak ada kursi kehormatan, tidak ada meja eksklusif. Semua duduk bersila dalam posisi yang sama, sebagaimana filosofi adat mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari tempat duduknya, melainkan dari keluhuran akhlak dan manfaat yang diberikannya kepada sesama.

Hidangan yang paling mencuri perhatian adalah samba buruak-buruak, masakan khas Minangkabau yang dihadirkan melalui tangan-tangan penuh kasih para Bundo Kanduang. Aroma rempah yang menguar seakan menjadi bahasa rasa yang menghubungkan tanah rantau dengan kampung halaman, menghadirkan nostalgia dalam setiap suapan.

Usai menikmati santap siang, kebersamaan mengalir tanpa sekat. Sebagian peserta memilih berenang menikmati jernihnya laut Bunaken yang sebening kristal, sementara yang lain duduk di tepian pantai menyeruput kopi, berbincang hangat, bertukar cerita, serta merangkai kembali simpul-simpul persaudaraan yang selama ini terpisah oleh kesibukan masing-masing.

Namun pelayaran ini sesungguhnya jauh melampaui agenda rekreasi. Ia menjadi penanda bangkitnya denyut organisasi IKM Manado yang selama beberapa waktu terakhir cenderung redup.

Ketua Panitia Pelaksana, Ade Noviardy (Alex), menyampaikan apresiasi mendalam atas gagasan yang dinilainya berhasil menghidupkan kembali semangat organisasi.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dan sentuhan tangan dingin Dt. Toembidjo. Beliau ibarat angin pagi yang kembali menghidupkan bara semangat IKM Manado setelah sekian lama aktivitas organisasi berjalan tidak seintens dahulu. Hari ini kami merasakan kembali hangatnya persaudaraan sebagai satu keluarga besar Minangkabau.”

Nada serupa disampaikan Penasihat DPD IKM Manado, Syahrial, yang akrab disapa Pak Kumis. Menurutnya, kehadiran Dt. Toembidjo telah menjadi energi baru bagi generasi muda Minangkabau di Manado.

“Selama ini aktivitas anak-anak muda kita perlahan meredup, ibarat anak ayam kehilangan induak. Kehadiran Dr. Ferrytass Dt. Toembidjo menghadirkan inspirasi baru agar kami kembali merapatkan barisan dan membangun organisasi dengan semangat kebersamaan.”

Bagi kalangan perantau Minangkabau, kiprah Dt. Toembidjo memang bukan lagi sekadar dikenal melalui jabatan yang disandangnya. Beliau dipandang sebagai seorang konseptor organisasi yang konsisten menghadirkan gagasan-gagasan segar dalam membangun ekosistem diaspora Minangkabau di berbagai daerah.

Selain mengemban amanah sebagai Dewan Pakar DPP IKM, beliau juga merupakan Dewan Pembina IKM Sapayuang Sulawesi Selatan serta Dewan Komite Etik & Pengawasan IKASMIN-SS (Ikatan Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan). Berbagai program yang digagasnya selama bertugas di Makassar telah menjadi jejak pengabdian yang masih dikenang hingga kini.

Romantisme pelayaran menggunakan Kapal Phinisi menuju Bunaken pun bukan pengalaman pertama. Ketika masih bertugas di Makassar, beliau pernah menginisiasi pelayaran serupa dalam rangka pembubaran panitia Milad IKM Sapayuang serta peresmian AD/ART organisasi tersebut. Tradisi menyatukan persaudaraan melalui perjalanan laut perlahan menjelma menjadi identitas yang selalu melekat dalam setiap gagasan kebersamaan yang lahir darinya.

Menjelang berakhirnya pelayaran, Dt. Toembidjo menyampaikan pesan yang sarat makna kepada seluruh peserta.

“Organisasi Minang di rantau adalah tempat kita berlabuh. Di sinilah silaturahmi harus terus dipelihara agar tidak lapuk dihujan dan tidak lekang dipaneh. Peganglah teguh falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, dan jangan pernah lupa kepada petuah nenek moyang kita, Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Petuah itu menjadi penutup yang bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan kompas moral bagi setiap anak rantau. Sebab sejauh apa pun ombak membawa kapal berlayar, sejauh itu pula adat mengajarkan bahwa akar tidak boleh tercerabut dari batangnya.

Pelayaran menuju Bunaken akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan wisata. Ia menjelma menjadi sebuah ziarah kebudayaan, sebuah ode bagi persaudaraan, serta penegasan bahwa identitas Minangkabau akan senantiasa tumbuh di mana pun para perantaunya menanamkan langkah.

Bak pepatah adat mengatakan, karatau madang di hulu, babuah babungo balun; marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun. Sebab bagi urang awak, rantau bukanlah tempat meninggalkan asal-usul, melainkan ruang untuk memuliakan kampung halaman melalui karya, pengabdian, dan persaudaraan yang terus hidup sepanjang zaman.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *